Rabu, 31 Desember 2008

Eye-one Persembahan Busana terbaik di tahun 2009 buat anda yang memahami ModeTrendsetter

Alhamdulillah, di awal tahun 2009 telah kami launching eye-one, busana muslimah yang kami desain dengan bahan kaos berkualitas, adem, nyaman dan enak dipakai.
Silakan email ke : andriirwan@gmail.com atau mobile: 0812 853 8544

Kami tengah mencari Partnet/Mitra Usaha di berbagai wilayah Penjuru Bumi.
Dapatkan Paket Sample mulai dengan harga Rp.500 ribu saja.
Garansi kami:
  • boleh tukar barang atas pembelian busana.
  • Desainer yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun.
  • Quality Control yang kami jaga ketat.


Model Gamis kerutan di pinggang, aplikasi di dada:
.
Warna Abu/Ungu (HET Rp 150.000,-)
code :
GKK-01 uk S
GKK-02 uk M
GKK-03 uk L
GKK-04 uk XL

Kamis, 27 Maret 2008

Refleksi & Resolusi ...


oleh : Anthony Dio Martin

Director HR Excellency

"Hidup yang tidak pernah direfleksikan Adalah hidup yang tidak layak dijalani."

(Socrates)

Tanpa terasa kita telah memasuki pertengahan Desember. Dalam hitungan minggu, tahun 2007 segera usai. Tahun 2008 sudah seperti mentari di ufuk timur. Lantas, bagaimanakah kita mengakhiri tahun ini dengan sempurna?

Ada tiga pertanyaan penting yang bisa kita ajukan: Where I was, where I am, and where I want to be?

Suatu kebiasaan baik dalam hidup yang sering saya berikan dalam seminar adalah kegiatan 2 R, yakni refleksi dan resolusi. Nah, tulisan ini akan diawali dengan ajakan mengadakan refleksi. Kevin Eikenberry, seorang ahli di bidang kepemimpinan mengatakan, "Waktu untuk merefleksikan hidup, akan menjadi salah satu waktu terbaik yang pernah kita berikan dalam hidup kita. Semakin muda, semakin berharga!"

Refleksi mengacu pada upaya kita melihat jejak perjalanan kita. Kita seperti berdiri di depan cermin. Yang terpenting, kita mau belajar dari pengalaman setahun ini. Percuma saja kalau kita bicara soal rencana, keinginan, maupun cita-cita, kalau kita sendiri tidak pernah belajar dari masa lalu.

Dalam bekapan rutinitas, kita membutuhkan jeda. Jeda untuk melihat kembali jejak perjalanan. Seperti seorang musafir yang memilih duduk tenang di atas bongkahan batu dan merenung. Sebuah pepatah mengatakan, "Mereka yang tidak pernah belajar dari masa lalu, akan mengulanginya lagi di masa depan".

Mari mengaca dari pengalaman klub-klub sepakbola terkemuka (BAYERN MUENCHEN, ARSENAL, etc), baik ketika menang maupun kalah. Mereka terbiasa duduk bersama sambil menyaksikan kembali tayangan saat mereka bermain di lapangan hijau. Mereka melihat kembali gerak-gerik para pemainnya dalam pertandingan itu. Bersama-sama mereka mempelajari itu. Selain mengevaluasi, mereka juga mencari strategi baru agar bisa bermain lebih baik di pertandingan selanjutnya. Itulah yang menjadi salah satu modal mereka untuk memenangi pertandingan berikutnya.

Ambillah waktu yang tenang di mana Anda punya kesempatan duduk sejenak dan melihat kembali hari-hari yang telah Anda jalani. Inilah yang saya sebut sebagai waktu hening Anda. Tahukah Anda, beberapa penulis dan orang terkemuka, mempunyai waktu dan tempat khusus untuk waktu hening seperti ini.

Guru kepemimpinan terkemuka John Maxwell maupun penemu besar Thomas Alva Edison adalah dua tokoh terkemuka yang mempunyai banyak waktu hening ini. Kali ini, mari kita pakai waktu hening ini untuk merenungkan waktu yang telah kita jalani. Bicara soal refleksi, saya ingin memberikan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk memberikan penilaian, evaluasi maupun memonitor perkembangan diri kita secara personal. Dengan metode ini, saya jamin Anda bisa mendapatkan banyak hal dari waktu setahun yang telah Anda lewati.

Skala kemajuan. Pertama-tama, Anda bisa memberikan penilaian secara subjektif dalam bentuk skala 0 hingga 10 mengenai kemajuan Anda dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bandingkanlah pencapaian dan kualitas yang Anda capai tahun ini dengan pencapaian pada 2006. Boleh secara umum, boleh pula secara lebih spesifik. Mencakup berbagai bidang, seperti hubungan sosial, finansial, kesehatan, spiritual, kehidupan rumah tangga, dan karir.

Dengan skala kemajuan ini, Anda punya gambaran secara lebih eksakta, bagaimana kemajuan yang dicapai. Apakah Anda meningkat ataukah Anda merosot. Kalau merosot, di bagian manakah, dan mengapa hal tersebut terjadi? Dengan skala kemajuan ini, kita bisa belajar dari hidup kita sendiri.

Insight tahun lalu. Memasuki akhir bulan Desember nanti, bagusnya kalau kita bisa bertanya: apakah insight baru yang saya pelajari dari kehidupan yang telah dijalani? Saya senang dengan istilah insight karena itu mengandung pengertian "lebih dari sekadar pengetahuan." Tetapi, mencakup kebijaksanaan dan hikmah baru dalam hidup. Bisakah Anda lihat lagi, peristiwa dan momentum penting apa saja yang terjadi selama tahun 2007 ini yang memberikan Anda hikmah ataupun pelajaran penting tentang hidup.

Pengalaman tersebut bisa merupakan pengalaman sukses maupun kegagalan. Semuanya punya makna. Nah, pertanyaannya: apakah maknanya bagi hidup Anda? Apakah pelajaran penting yang telah Anda petik yang bisa Anda bawa ke dalam kehidupan Anda berikutnya? Bahkan, Anda boleh merumuskan dalam kata-kata mutiara, hikmah Anda pada tahun 2007 ini.

eframing masa lalu. Dari perjalanan hidup yang telah Anda lewati, pasti ada pengalaman yang menarik, tetapi ada juga pengalaman yang pahit. Saya tertarik dengan pengalaman gagal dan kurang sukses yang baru Anda alami. Khususnya kisah kegagalan maupun kepahitan. Mari kita lihat kembali. Tahukah Anda, tidak ada yang namanya gagal. Semuanya adalah umpan balik penting bagi hidup kita. Itulah pelajaran yang kehidupan berikan kepada kita. Saatnyalah melakukan reframing atau membingkai ulang atas apa yang telah dilewati. Caranya adalah bertanya. Di balik kegagalan dan penderitaan yang Anda alami pada tahun 2007 ini, adakah sudut pandang positif untuk menjadikan semuanya itu bermakna?

Motivasi dari pengalaman sukses. Pada tahun 2007 ini, apakah pengalaman sukses yang Anda alami? Bagaimana Anda mengalaminya? Cobalah lihat dan renungkanlah kembali apa yang telah Anda alami. Hal ini bisa menjadi pengalaman berharga yang bisa Anda ulang lagi pada tahun 2008 nanti. Prinsip sukses mengatakan bahwa sesuatu yang pernah Anda capai, berarti punya peluang besar untuk Anda raih kembali di masa-masa depan. Syaratnya sederhana saja. Mari kita tentukan apa saja kunci kemenangan itu, lalu ulangi, dan fokuskan lagi pada kunci kemenangan ini pada masa depan. Nah, kita mempunyai peluang memperbesar kesuksesan kita kembali.

End year feedback. Bagus juga, apabila pada akhir tahun ini, Anda bisa punya kesempatan duduk dan bicara empat mata dengan orang-orang penting yang ada di sekeliling Anda. Entah itu atasan, rekan, sahabat, pasangan hidup maupun pacar Anda. Cobalah ambil momentum berdua yang tidak terinterupsi, pasanglah telinga lebar-lebar tanpa sikap defensif (membela diri) dan cobalah minta mereka memberikan feedback untuk Anda. Memang tidaklah mudah. Tapi, dari mereka mintalah secara jujur apa saja hal-hal positif yang Anda lakukan sepanjang tahun ini yang mereka sukai dari Anda. Jangan lupa juga pada hal-hal yang masih kurang dan kira-kira mereka harapkan dari Anda pada tahun depan.

Pembaca, dengan melakukan refleksi semacam ini, percayalah waktu yang telah kita lewati akan menjadi momentum-momentum emas bagi kita.

Dari momentum-momentum ini, kita mampu belajar banyak sekali hal.

Itulah pelajaran penting kehidupan.

Ingatlah ...

Anda yang tidak pernah refleksi, Anda tak akan pernah belajar, dan Anda yang tak pernah belajar, sebenarnya Anda tidak pernah hidup!

Evaluasi Diri ...


oleh : Lisa Nuryanti

Managing Director Expands Consulting

Untuk menutup 2007 dan menghadapi 2008, penulis menyajikan dua ulasan di halaman ini terkait dengan masalah pengembangan karir/ke-SDM-an. Berikut ulasan pertamanya.

Menghadapi 2008, Fabregas sangat bersemangat, bahkan menggebu-gebu. Mengapa? Ketika diadakan rapat untuk pembuatan rencana 2008, Fabregas, sebagai Supervisor, sempat mengajukan beberapa usulan yang dinilai sangat bagus oleh para direksi. Usulan tersebut bukan hanya sekadar usulan yang muncul begitu saja, tapi sudah merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman Fabregas selama bekerja.

Tahun 2007 diamatinya sebagai tahun yang sebenarnya bagus, hanya sayangnya perusahaan tidak bisa mencapai keuntungan maksimal. Semua orang memiliki alasan kuat untuk menjelaskan mengapa perusahaan tidak maksimal. Ada yang menyalahkan masalah ekonomi yang lemah, musim panas yang berkepanjangan, peraturan perusahaan yang kurang mendukung, dan sebagainya.

Seperti biasa, setiap bagian saling menyalahkan. Dari bagian pemasaran, produksi, keuangan, gudang, distributor, hingga sumber daya manusia. Semua orang memiliki beribu-ribu alasan yang intinya menyalahkan orang lain.

Di tengah-tengah suasana panas, di mana tak seorangpun mau disalahkan, Fabregas mencoba berpikir jernih. Apa sebab hasil penjualan tidak maksimal? Apakah memang diakibatkan oleh kesalahan seseorang atau bagian tertentu saja? Ataukah diakibatkan oleh kesalahan semua orang? Kesalahan manusiannya? Termasuk dirinya sendiri? Bahkan termasuk para manajer hingga pimpinan perusahaan? Bagaimana kalau ternyata semua orang melakukan kesalahan di 2007? Atau bahkan pada tahun-tahun sebelumnya juga?

Fabregas lalu mengajukan pertanyaan tersebut ke forum rapat. Semua orang langsung terdiam. Semua orang berpikir. Ada yang bersiap-siap membela diri, ada yang mencari-cari alasan, ada yang menolak, ada yang bingung karena belum pernah memikirkannya.

Semua salah ..

Suasana hening sejenak. Tiba-tiba bapak Presiden Direktur berkata "Mungkin benar kata Saudara Fabregas. Sepertinya kita semua melakukan kesalahan." Semua orang memandang pak Presiden Direktur. Ada yang heran mendengar pernyataannya, ada juga yang keningnya berkerut.

"Termasuk saya," kata beliau. Semua orang tidak berani lagi mencari-cari alasan untuk membenarkan dirinya. Bapak pimpinan saja sudah mengakui kesalahannya, masa ada yang berani berkata bahwa dirinya tidak bersalah? Semua orang mengangguk-angguk pelan. "Tolong saudara Fabregas menjelaskan lagi," kata beliau.

"Baik pak. Saya memang melihat beberapa hal. Pertama, disiplin kerja kita sangat kurang, termasuk saya. Saya masih sering terlambat masuk kerja. Saya juga masih sering terlambat memenuhi janji pertemuan dengan klien. Untuk rapat saja, kita tidak pernah tepat waktu. Maaf pak. Tampaknya yang saya bicarakan adalah hal kecil. Tapi bukankah hal-hal besar berasal dari hal-hal kecil? Bila kita terbiasa terlambat, maka kita tidak lagi merasa bersalah, sehingga keterlambatan menjadi hal yang biasa dan akan selalu diulangi."

"Kedua, kita kurang belajar. Saya ingin menjual produk kita ke luar negeri. Tapi bahasa Inggris saya pas-pasan. Bagaimana saya mau bersaing dengan orang dari perusahaan lain yang bahasa Inggrisnya lebih lancar, jika pelanggan saya lebih suka berkomunikasi dengan mereka karena lebih nyambung?" Semua orang tertawa sambil mengangguk-angguk.

"Yang saya bicarakan bukan hanya kemampuan berbahasa asing, tapi kemauan belajar. Saya selalu berkata tidak punya waktu untuk belajar bahasa asing. Padahal dalam hati saya, sebenarnya saya memang malas. Terus terang saya senang dengan kemalasan saya." Semua orang kembali tertawa dan mengangguk.

"Bahkan saya mengaku agak manja. Kalau saya memang ingin belajar, saya tidak perlu menunggu perusahaan membiayai saya untuk kursus bahasa asing. Saya bisa belajar sendiri kok. Ya, itulah masalahnya. Saya sebenarnya malas. Bukan hanya dalam hal bahasa asing. Saya juga sebenarnya kurang menguasai proses ekspor, tapi saya tidak mau belajar sungguh-sungguh. Saya merasa kemampuan komunikasi saya masih kurang, tapi saya tidak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya. Masih banyak kekurangan saya yang saya biarkan saja. Mungkin karena saya selalu berpikir bahwa bekerja begini tidak dipecat kok, untuk apa repot-repot belajar lagi?" Grrrrr, semua tertawa.

Pak Presiden Direktur segera berkata "Bagus!! Baru hari ini ada orang yang berani berterus terang. Mari kita lihat apa yang akan kita lakukan tahun depan. Untuk mencapai kinerja optimal, maka semua hal-hal kecil harus optimal. Tuntutan kerja semakin banyak. Tidak ada tempat lagi untuk bermanja-manja dan bermalas-malasan. Semua harus mau belajar dan mau berusaha."

"Katanya mau karir meningkat. Tapi tiba kantor saja masih terlambat. ...

Bagaimana mau menuntut gaji dan karir yang lebih bagus? Kita perlu perbaiki semuanya. Kita akan adakan rapat lagi minggu depan. Semua orang harap memikirkan apa saja yang perlu dilakukan untuk tahun depan. Kira-kira kita mau ke mana?

Dan kesimpulannya, kita tidak optimal karena salah kita semua. Betul?"

"Betul!!!"jawab semua orang yang hadir. Anda siap mengevaluasi diri sendiri berusaha lebih baik? Mari kita lakukan yang terbaik untuk tahun depan.

Do your BEST ! ...

Create Your "Positive Conditioning"...



"Joy, fun, or happiness are just the results of mind conditioning already anchored in us. Create a new one that could push us to the maximum performance"
- Sonny Vinn -


Bagi sebagian besar orang, membicarakan tentang `dunia lain' terasa tabu, bahkan bisa menyebabkan bulu roma berdiri. Saya sendiri punya seorang rekan yang lumayan penakut, dimana biasanya setelah menonton film horor, jadi tidak berani untuk masuk ke kamarnya sendiri yang gelap. Di lain peristiwa, ketika ada orang yang kebetulan membawa makanan lewat di depan anda, bisa jadi air liur mengalir keluar lebih banyak di dalam mulut anda, dan bisa saja tiba-2 perut terasa lapar.

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam 2 contoh peristiwa tersebut ? Itu adalah suatu `pengkondisian', yang oleh dunia psikologi sering disebut dengan istilah Anchoring, atau sering dipopulerkan oleh Anthony Robbins dengan "Neuro Associate Conditioning" - NAC.

Pengkondisian atau conditioning adalah suatu keadaan dimana emosi kita akan berubah dengan seketika saat ada suatu stimulus yang masuk ke dalam pikiran kita. Seperti contoh diatas, dalam kondisi normal, lalu misalnya kita membicarakan tentang `dunia lain', tentang hal-hal yang menyeramkan, maka otomatis stimulus ini bukan saja akan diterima sebagai informasi biasa, tapi juga masuk ke dalam memory kita.


Informasi ini di dalam memory akan diolah sedemikian rupa, sehingga apabila memang di dalam pikiran kita sudah tersimpan data bahwa `dunia lain' berarti menyeramkan, maka pikiran kita akan mengirimkan sinyal-2 tertentu ke perasaan kita, sehingga kita menjadi takut. Sehingga dapat dikatakan disini bahwa sebenarnya rasa takut seseorang terhadap sesuatu hal, adalah hasil proses `pengingatan' kita akan suatu peristiwa, dan berakhir dengan berubahnya emosi kita sesuai dengan bagaimana ingatan kita diprogram pada awalnya.

Proses `pemrograman' conditioning seseorang biasanya terjadi pada saat seseorang kecil hingga mencapai tingkat `kematangan' pada usia 17-18 tahun. Proses ini banyak sekali dipengaruhi oleh orang tua, teman, dan lingkungan tempat seseorang bertumbuh. Diatas usia 18 tahun, sebenarnya hampir semua tingkah laku dan sikap kita, merupakan bentuk pengulangan dari conditioning yang telah ditanamkan sebelumnya. Jadi, apabila seseorang takut terhadap gelap misalnya, sebenarnya yang terjadi adalah, orang tersebut pada waktu proses pertumbuhan hingga usia 18 tahun, mungkin banyak menerima input negatif tentang gelap, baik dari lingkungan maupun keluarganya secara terus menerus ;
sehingga akhirnya orang tsb menerimanya sebagai suatu pengkondisian yang normal bagi dirinya.

Berita baiknya adalah, walaupun dikatakan bahwa pengkondisian mencapai puncaknya pada saat kita berusia 17-18 tahun, ternyata pengkondisian kita masih bisa diubah. Bahkan, kita pun masih bisa menciptakan `conditioning' baru untuk hal-hal yang memang belum pernah kita alami sebelumnya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, untuk mengubah `conditioning' kita, yaitu :

  1. Kita SADAR bahwa kita mempunyai `conditioning' yang merugikan kita
  2. Kita punya keinginan untuk MERUBAHNYA
  3. Mulai MENGHANCURKAN `conditioning' yang lama dengan cara melakukan afirmasi. Misalnya, kita takut gelap, maka pada saat gelap, cobalah justru MEMAKSA diri masuk ke ruangan gelap tsb, dan mengatakan "Saya berani di dalam gelap, saya berani di dalam gelap" berkali-kali
  4. Apabila kita merasa kesulitan melakukan yang nomor tiga diatas, ada baiknya minta bantuan dari orang lain sehingga ada dorongan yang lebih kuat dari luar
  5. Lakukan berulang-ulang langkah-2 diatas hingga akhirnya `conditioning' kita mulai berubah menjadi lebih positif, menjadi lebih baik.

Untuk conditioning yang memang belum pernah ada sebelumnya justru lebih mudah, karena kita tidak perlu mengubah dari yang lama ke yang baru. Justru disinilah kita bisa menciptakan `conditioning' baru yang positf, yang bisa mendorong kita untuk mencapai prestasi puncak. Namun tetap harus dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan, sebuah `conditioning' akan akan membantu kita menuju sukses lebih cepat

Sukses untuk anda !

SONNY VINN
Motivational Speaker, Moderator milis The Acesia (www.the-acesia.tk )
Pengarang buku motivasi best seller "SLAM DUNK For SUCCESS"

Nelayan Itu Mulai Berlayar Kembali ...

Salam Perubahan!

Bangun pagi dengan rasa penuh syukur dan sudah tahu persis apa yang harus diperjuangkan dan dilakukan. Hal yang menjadi penghambat kesuksesan besar kita, yaitu TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH atau juga bisa dibilang malas, Kalau anda bertanya pada orang yang malas, maka anda akan menemukan jawaban yang cukup lucu. Mereka ada yang bilang : Malas itu menikmati sekarang, yang orang-orang "SUKSES" nanti menikmatinya kalau sudah tua. Hehehe itu kata mereka.

Bahkan seorang penulis besar pun sempat menyinggung dengan ceritanya yang cantik. Seseorang menasehatkan pada seorang yang bermalasan dan bersantai ditepi pantai agar lebih giat, supaya bisa beli kapal, kaya dan bisa bersantai nanti dikemudian hari. Kemudian orang tersebut bertanya "Apa yang sedang saya lakukan sekarang?"

Ya benar orang itu sudah bersantai, dan mengapa menunggu lama, harus punya kapal dan lain sebagainya.

Wo wowowowowwww.. Tunggu dulu sahabat sukses,

Kita mesti berhati-hati. Menjadi sukses bukan untuk bersantai. Anda akan kecewa, kalau ingin sukses hanya ingin bersantai. Anda bisa terjebak pada penawaran-penawaran cepat kaya. Modal kurang dari 4 Juta bisa jadi milyader dalam dua tiga tahun. Atau duduk manis Account anda akan membengkak dengan model money games.....

Hati-hati!

Kalau seorang nelayan yang semangat karena ingin bersantai nanti kalau sudah kaya, maka jawaban nelayan yang sedang bersantai menjadi benar, jawaban pemalas akan bisa dibenarkan, walaupun suatu hal yang PASTI kalau muda bermalasan ! maka bersiaplah untuk kerja keras di hari tua.

Mari kita siapkan mindset sukses kita lebih baik lagi. Lebih bermakna dan lebih kuat. Kita bekerja keras bukan untuk bersantai, namun untuk mengisi kehidupan yang hanya satu kali ini jauh lebih bahagia dan bermakna.

  • Kita jalani hari-demi hari dengan antusias
  • Kita jalani hari demi hari dengan semangat dan ...
  • Kita jalani hari demi hari dengan makna yang kuat dalam kehidupan ini.

Apakah orang yang Bahagia itu semangat?

Apakah orang yang bahagia itu selalu optimis?

Apakah orang yang ba! hagia itu memberi?

Apakah orang yang bahagia itu berbagi?

Apakah orang yang bahagia itu ramah?

Apakah orang yang bahagia itu berwajah manis?

Anda ingin berbahagia?

Kalau begitu coba dengan membaliknya. Hidup dengan Semangat, optimis, memberi, berbagi,ramah, dan berwajah manis.

Apakah orang yang SUKSES itu semangat?

Apakah orang yang SUKSES itu selalu optimis?

Apakah orang yang SUKSES itu memberi?

A! pakah orang yang SUKSES itu berbagi?

Apakah orang yang SUKSES itu ramah?

Apakah orang yang SUKSES itu berwajah manis?

Anda ingin SUKSES ?

Kalau begitu coba dengan membaliknya. Hidup dengan Semangat, optimis, memberi, berbagi,ramah, dan berwajah manis.

Semoga dengan semangat menjalani hidup dengan penuh makna, bisa menggerakan "nelayan" yang sedang santai untuk berbuat lebih.

Salam Perubahan ...

- Hari Subagya -

Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan ? ...

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Tidak terdengar seperti gagasan yang cerdas, bukan? Orang yang mempunyai kecanggihan berpikir pasti tahu bahwa melapangkan jalan bagi lawan-lawan kita hanya akan menyebabkan kita kalah dalam persaingan. Kalaupun kita melakukannya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang kita lapangkan untuk lawan-lawan kita itu menuju ke sebuah jurang kehancuran. Jika jalan itu menuju kepada kejayaan, mengapa mesti dilapangkan untuk sang lawan? Logika berpikir kita seharusnya justru mengatakan untuk menjegal setiap langkah lawan dijalan itu. Kita harus memastikan bahwa jalan menuju kejayaan semacam itu hanya boleh dilewati oleh kita saja.

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Agak terdengar seperti sebuah perumpamaan. Mungkin memang itu tidak lebih dari sekedar kiasan belaka. Bisa iya. Bisa tidak. Secara harfiah bisa berarti melapangkan jalan dalam arti sebenarnya. Kebalikannya, menjegal jalan lawan dalam arti sesungguhnya.

Hari senin yang lalu, saya mendapatkan contoh nyata tentang hal ini. Kantor tempat saya bekerja terletak didaerah Semanggi. Daerah three-in-one dong, ya kan. Setiap mobil yang berpenumpang kurang dari 3 orang, tidak boleh melewati jalur utama dikawasan itu pada jam 07.00 - 10.00 pagi, dan jam 16.30 -19.00 sore. Untuk masuk atau keluar gedung (Y) pada jam-jam seperti itu, kami harus memutar, dan melintas didepan gedung lain (Z) yang terletak dalam satu komplek. Oleh karena itu, fasilitas parkirpun dikelola dalam sistem yang sama.

Senin itu, tidak seperti biasanya. Ketika saya melintas didepan gedung Z, saya dicegat Satpam. Dengan heran saya bertanya: "Ada apa, Mas?" Dan dengan ragu-ragu Satpam itu berkata: "Maaf Pak, Bapak sudah tidak boleh melintasi jalan ini lagi...." Dari caranya berbicara, saya tahu; hati nurani Pak Satpam itu sedang berperang sendirian. Tapi, dia kan hanya menjalankan tugas. Jadi saya dapat memahaminya. Saya tidak ingin bertengkar, toh bukan hanya saya yang diperlakukan seperti itu. Semua pengendara yang melintas didepan
gedung Z itu juga diperlakukan sama.

Ketika saya memutar, saya menyadari, bahwa sepanjang jalur yang biasa kami lewati, ternyata sudah dipasang tiang besi yang disemen ke lantai. Wuah, saya pikir; ada apa nih? Saya tidak mendapatkan jawaban apapun hingga pada sore harinya, management gedung Y mengirim surat resmi kepada seluruh penghuni. Intinya meminta maaf bahwa hari ini ada penutupan akses yang biasa kami gunakan. Menurut surat itu, penutupan dilakukan managment gedung Z setelah selama seminggu sebelumnya negosiasi tidak membuahkan kesepakatan positif.
Deg! Hati saya berdegup. Ada perselisihan antar management gedung, rupanya. Dan perselisihan itu sampai menutup jalan masuk bagi orang-orang yang perlu lewat.

Dipagi hari, masih ada alternatif jalan memutar untuk masuk ke gedung Y. tetapi, disore hari, sama sekali tidak ada akses, kecuali berhadapan langsung dengan polisi yang menjaga ketat jalur three in one. Karena jalur keluar satu-satunya melewati bagian belakang gedung Z sama sekali tidak bisa dilewati mobil. Alhasil, management gedung Y membongkar pagar hidup meski mesti mengorbankan beberapa pohon menghijau ditumbangkan. Lalu, melalui jalur curam, sempit lagi miring itulah orang-orang bisa melintas. Jika tidak terampil, pengendara bisa tergelincir. Apalagi mobil-mobil besar seperti truk para pemasok barang yang benar-benar harus menanggung resiko terbesar.

Begitulah gambaran harfiah jegal menjegal jalan lawan berlangsung. Gedung-gedung perkantoran paling mahal sekalipun tidak luput dari kejadian semacam itu. Biarpun dihuni oleh perusahaan-perusahaan besar kelas dunia. Bahkan beberapa diantaranya listed dalam Fortune 500. Ada beberapa konsulat negara-negara tetangga juga disana. Hal semacam itu bisa terjadi juga.

Mari sekarang kita lihat makna kiasannya. Dalam bisnis, persaingan tidak jarang diwarnai oleh saling jegal antar kompetitor. Dan rupanya, masih banyak pelaku bisnis yang berpikir bahwa cara terbaik untuk memenangkan persaingan adalah dengan mengalahkan lawan-lawan bisnis mereka. Logika berpikir seperti ini, sekilas ada benarnya juga. Tetapi, bagi orang-orang tercerahkan seperti Professor Chan Kim; kemenangan tidak selalu bisa diraih melalui pertarungan berdarah-darah seperti itu. Bahkan, kemenangan terbesar sebenarnya tidak terletak pada pertarungan saling mengalahkan, melainkan saling menumbuhkan satu sama lain. Melalui prinsip saling menjegal untuk mengalahkan, semua orang hanya akan memperebutkan kue kecil meski mesti berlumuran darah. Dan dengan darah itu, lautan pun bisa berubah menjadi merah. Menjadi the red ocean.

Sedangkan, dengan prinsip saling melapangkan jalan untuk menumbuhkan satu sama lain; kemenangan menjadi milik semua orang. Untuk menang, kita tidak harus menumpahkan darah. Sehingga setiap orang bisa sama-sama untung pula. Market berhasil dikembangkan, dan total bisnis menjadi semakin besar. Lautan, tidak akan menjadi keruh karena pertempuran. Airnya akan tetap terlihat biru, sebagai tanda tersimpannya potensi yang nyaris tak berbatas. Karena setiap orang yang bersedia melapangkan jalan bagi lawan-lawannya, sesungguhnya tengah berenang dalam sebuah dunia luas yang disebut blue ocean. Dan bahtera tempatnya mengarungi samudera biru itu bernama the blue ocean strategy. Begitulah yang diajarkan oleh Profesor Kim kepada kita.

Dalam hubungan antar manusia, kita juga sering melihat orang yang saling jegal. Entah karena persaingan memperebutkan calon pasangan hidup. Atau perebutan kursi kekuasaan. Atau sekedar ingin mendapatkan pujian dari atasan; orang bisa menjegal orang lain. Fanatisme terhadap seseorang atau kelompok tertentu, bisa juga menjadi penyebab lainnya.
Percayalah, kita tidak akan pernah kehabisan alasan untuk menjegal lawan. Tetapi, apakah kita mesti selalu demikian?

Memberi jalan kepada lawan. Mengapa tidak? Jika setiap orang berpikiran demikian, maka didunia ini tidak akan pernah ada orang yang terjegal, lalu terjungkal. Setiap orang, justru akan mendapatkan jalan sesuai haknya masing-masing. Bahkan, ketika setiap orang saling mempersilakan lawannya untuk melintas dijalan miliknya; permusuhan berubah menjadi persaudaraan yang menghasilkan kesejahteraan bersama.

Ada yang bilang; jika kita berdada lapang, orang lain bertindak curang! Mungkin bisa demikian. Tetapi, jika dengan lapang dada itu kita mencapai kemuliaan, hingga Tuhan berkenan menyukai jalan yang kita tempuh; mengapa kita harus takut dengan kecurangan orang? Karena, konon Tuhan pernah berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang yang berbuat curang, tidak mencurangi siapapun kecuali dirinya sendiri.

Kita tidak ingin mencurangi diri sendiri, bukan?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Hidup Maksimal dengan Optimisme...


oleh : Anthony Dio Martin - Director HR Excellency

"Optimism leads to higher achievement than pessimism..."

(Martin Seligman)

Apakah Anda masih ingat dengan tes gelas yang diisi air minum setengahnya? Katanya, dari situ, kita bisa menilai apakah seseorang itu optimistis atau pesimistis. Seorang pesimistis akan cenderung melihat gelas itu setengah kosong. Dia akan berkata "Waduh, gelasnya sudah setengah kosong!" Sementara, orang optimistis akan melihat gelas itu terisi setengah air. Untuk gelas yang sama, dia akan berkata "Lumayan, masih ada setengah gelas airnya."

Namun, menurut saya, orang yang superoptimistis akan mengatakan, "Lihat, gelasnya penuh. Setengah penuh dengan air dan setengahnya lagi penuh dengan udara." Itulah orang super optimistis. Dalam situasi apa pun, tidak ada yang buruk. Sebaiknya, kita senantiasa melihat hikmah dan sisi positifnya.

Tidak mudah bersikap optimistis dalam segala situasi. Lebih-lebih, jika sejak kecil orang dikondisikan untuk berpikir pesimistis. Saya mengenal banyak orangtua yang tanpa sadar mengajari dan menularkan rasa pesimistisnya pada anak-anak mereka.

Hal ini berurat akar melalui perkataan sehari-hari. Misalnya, orangtua yang bilang, "Jangan terlalu bersenang diri. Nanti, kalau jatuh, rasanya akan sakit sekali." Ada juga orangtua yang suka mengajarkan, "Kegembiaraan ini sesaat saja. Sebentar lagi, masalah lain akan datang" atau "Hidup ini sarat dengan masalah, Nak! Habis masalah satu, disusul masalah lainnya."

Akibatnya, anak cenderung belajar dari ungkapan pesimistis ini. Tanpa disadari, hal ini memengaruhi sikap dan mental anak saat dewasa nanti dalam menghadapi realitas hidup.

Burukkah menjadi orang pesimistis? Sebenarnya, relatif juga. Tapi, jika dihitung, orang pesimistis akan membayar 'ongkos kehidupan' lebih mahal dalam hidupnya dibandingkan dengan mereka yang optimistis. Biasanya, orang pesimistis akan menambah berat beban penderitaan, masalah, maupun kesulitan yang sedang dihadapinya.

Nah, jika kita tempatkan dua orang, optimistis dan pesimistis, dalam situasi kegagalan yang sama, maka orang pesimistis akan merasa lebih sakit dan berbeban berat. Orang pesimistis akan menambahi beban hidupnya dengan pikiran negatif atas kegagalannya. Hal ini akan merongrong banyak aspek dalam hidupnya. Hidupnya akan semakin loyo dan tidak berenergi. Sementara itu, orang optimistis mungkin akan merasakan sakit juga. Namun, dia bisa mengendalikan diri dan mampu bangkit untuk kembali berjuang.

Tidak mengherankan jika Daniel Goleman, ahli keceradasan emosional, pernah mengatakan, "Seorang pekerja yang optimistis akan mencapai hasil yang lebih gemilang justru saat setelah mereka kalah dan gagal, dibandingkan dengan seorang pekerja yang pesimistis".

Optimisme dan pikiran positif ...

Pakar optimisme Martin Seligman mengatakan orang optimistis itu tidak sekadar berpikir positif atas segala hal. Namun, dia juga yakin segala sesuatu akan menjadi baik. Oleh karena itu, dia terdorong melakukan sesuatu agar yang baik itu benar-benar terwujud. Pikiran dan tindakan menjadi satu. Buahnya tak lain berupa kemenangan.

Saya baru saja bertemu dengan seorang Kepala Cabang suatu bank di Sumatra dengan nilai penghasilan terbaik se-Indonesia. Di matanya, saya melihat jiwa optimistis sejati. Dia bercerita tentang jatuh bangunnya mengelola cabang bank itu. Dulu, kantor cabang ini tidak diperhitungkan dan senantiasa ketinggalan dibandingkan dengan cabang di kota lain. Namun, dia memercayai bank itu akan bangkit. Dia bertekad melakukan sesuatu dan terwujudlah mimpinya itu. Dari enam tahun sampai sekarang, banknya mendapat predikat bank cabang terbaik se-Indonesia.

Kisah bankir tadi mengingatkan kita pada kisah pertempuran Napoleon melawan tentara Italia di Lodi. Kekuatan Italia dua setengah kali lebih kuat dibanding pasukan Napoleon. Namun, Napoleon mengamini kata-katanya, "Saya seorang hebat yang ditakdirkan menang." Optimisme ini mendorongnya mengambil langkah taktis nan berani. Akhirnya, Napoleon menang telak. Kolaborasi optimisme dengan tekad kuat dan tindakan konkret mengantarkan Napoleon meraih kemenangan luar biasa.

Contoh pribadi optimistis sejati lainnya bagi saya adalah pribadi Michael Jordan. Dia tahu, dan dia membakar teman-temannya dengan api optimismenya. Tidak pernah menyerah sebelum pertandingan usai. Bahkan, dia tetap optimistis bermain, sehingga terjadi beberapa momentum yaitu lawan hampir menang, tetapi di detik-detik terakhirnya, dia melakukan shot yang membalikkan kemenangan bagi timnya.

Optimisme Jordan ini memang dipupuk sejak dia berusia 18-an tahun saat masih di University of North Carolina. Pernah terjadi, saat-saat detik terakhir di mana gelar NCAA menjadi taruhannya, tetapi Jordan melemparkan bola terakhir, membalikkan angka kemenangan bagi timnya, dan menjadikannya seorang legendaris. Saat mengenang kembali pengalamannya, Jordan berkata, "Setelah shot tersebut, karir saya berubah, saya tidak akan pernah takut lagi!"

Coba bandingkan dengan mereka yang pesimistis. Mungkin tatkala melihat skornya sudah kalah jauh dan waktu tinggal hitungan detik, mereka sudah menyerah dan berpikir tentang kekalahan. Mereka mungkin memikirkan akan membalas di pertandingan berikutnya (padahal belum tentu ada yang "berikutnya"... -Benitez). I

tulah kata hati seorang pesimistis.

Namun, para optimistis selalu berpikir, kalau masih ada waktu biarpun hitungannya detik, tidak perlu menunggu lain waktu untuk membalas. Tunjukkan perlawanan terbaik sekarang. Dan kalaupun kalah, tidak akan terlalu sia-sia. Tidak mengherankan kalau dikatakan mereka yang optimistis biasanya didekati oleh dewi keberuntungan, atau kalaupun kalah, mereka cepat pulih kembali.

Sementara itu, orang pesimistis banyak mengalami kesialan karena usahanya yang setengah-setengah serta lebih sulit bangkit karena terbelenggu oleh ratapannya pada kegagalan.

Pembaca, tulisan ini dibuat di awal Desember, di mana titik akhir perhitungan skor prestasi .. Pencapaian TARGET... kita tinggal menunggu hari. Namun, di antara kita mungkin masih ada yang masih jauh dari target maupun goal Anda.

Entah itu target organisasi ataupun sasaran tim Anda. Namun, belajarlah dari Napoleon, belajarlah dari Michael Jordan. Tetaplah optimistis dan dengan tekad yang bulat ambil langkah untuk melalukan sesuatu. Selama peluit permainan belum ditiup, seperti diungkap Franz Beckenbauer, pemain sepak bola legendaris, berarti permainan belumlah usai. Masih ada kesempatan. Hanya saja dibutuhkan bara api optimisme luar biasa sehingga tetap menggerakkan otot-otot kita untuk terus bertindak hingga akhir garis finis kita.

-Jens Lehmann Inc.-